VIVAnews -
Gubernur Jawa Timur Soekarwo percaya
sepenuhnya pada polisi untuk melakukan penyelidikan atas dugaan bobolnya
Bank Jatim senilai Rp50 miliar. Soekarwo yang juga Komisaris Utama Bank
Jatim itu menyatakan kondisi bank daerah itu masih sehat dan aman.
"
Monggo
saja (diselidiki). Itu memang menjadi hak kepolisian, sekalian biar
masalahnya jadi jelas dan tidak terjadi simpang-siur informasi," kata
Soekarwo usai mengikuti Zikir Akbar bersama Kapolda Jatim Inspektur
Jenderal Hadiatmoko, pimpinan TNI dan pimpinan daerah Jawa Timur di
Markas Polda Jatim, Jumat, 20 April 2012.
Karwo menyatakan yang
terjadi di Bank Jatim Cabang HR Muhammad bukan masalah kredit fiktif,
tapi murni urusan bisnis dan utang-piutang individu. Masalahnya kini
dalam proses penyelesaian. "Murni urusan
business to business yang menyangkut pinjaman dengan agunan," kata Soekarwo.
Akan tetapi, untuk kasus di Cabang Sumenep, Madura, telah dilaporkan
ke polisi karena, kata Karwo mengakui, "Itu masuk dalam ranah pidana
tindak penipuan."
Karwo meminta nasabah Bank Jatim tidak perlu khawatir.
Masalah
di Bank Jatim mengemuka setelah Badan Anggaran DPRD Jawa Timur
menemukan kejanggalan dalam audit keuangan bank daerah itu. Dalam rapat
dengar pendapat yang digelar Kamis kemarin, 19 April 2012, sejumlah
wakil rakyat menduga beberapa cabang Bank Jatim melakukan transaksi
fiktif, hingga terjadi kebocoran mencapai Rp50 miliar. Modus umumnya
dengan pencairan dana kredit fiktif.
Di Cabang HR. Muhammad,
misalnya, anggota DPRD mensinyalir terjadi pembobolan dengan menggunakan
kredit usaha rakyat (KUR) fiktif senilai Rp25 miliar dan kredit
pengadaan sebesar Rp7,5 miliar. Di Cabang Perak, ada kucuran dana ke PT
Gramulia Utama senilai Rp9,7 miliar yang macet Rp2,4 miliar. Di Cabang
Sumenep, pada Maret 2012, terjadi pembobolan kredit multiguna kepada
guru dan PNS, dan di Cabang Gresik ada selisih kas sebesar Rp850 juta.
(kd)